Amien Rais “Bongkar Kejahatan Freeport”


amienTak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki kelahiran Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu lawas soal korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing, kembali ia gulirkan.
Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia ‘ditendang’ dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok tebal. Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai Hutapea, mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat
rumahnya di Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01).

Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak lantang soal Freeport?


Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima sebagai anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan secara sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi kenyataan, maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang aduhai. Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan Busang itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan oleh PT Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya bukan hanya kata si Fulan dan si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa qiila, tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. Bahkan saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi selama setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak bangsa saya betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang diacak-acak oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah gunung sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah berapa luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga melihat dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat pertambangan di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang seratus kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa itu untuk menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga yang kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya diberi tahu bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya. Begitu saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang bertentangan dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red)
saya ditendang dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas satu persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat sekitar. Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan wilayah yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah biji tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau. Saya pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997 waktu saya ada di Washington. Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya.
Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour ke daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan bahwa Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada saat bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger. Ternyata dia salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya mengatakan, “Kalau Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan mengambil langkah koreksi.” Tetapi semua itu tentu saja hanya sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila menjarah kekayaan kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar kejahatan di Freeport ini.

Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan?

Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara lewat penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang dimengerti oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di Freeport itu memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan dalam jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun 60-an. Anda bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa volume ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu sama dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton. Ini sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport sebagai perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil-kecil seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, dan lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah lebih dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-acak kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka saya khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita masih seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat kepala terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha dahsyat ini harus kita lawan.

Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah mengusut korupsi kelas ecek-ecek?

Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang ratusan juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang besar-besar. Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri. Dan memang rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat dalam memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political and Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu dalam korupsi di kawasan Asia ini.
Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan, sehingga media massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadikucing-kucingan.

Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G (Goverment to Goverment). Bisa dijelaskan?

Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang juga melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh di The International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. Memang yang mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan dan pertahanan kita. Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih dikatakan ada seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat amplop dari Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan mengetahui hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak tahun 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 juta US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat keamanan kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk kekayaan kita. Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan.

Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing?

Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di Freeport ini. Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi yang cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins bahwa korporatokrasi itu ada tiga pilar, yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank. Tiga elemen ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand, India, RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan Yes! Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak asing menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah ceramah di Melbourne, saya bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah saya sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu karena semau tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi 15 persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, karena kita tidak tahu apa yang terjadi disana.

Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita harus lepas dari Freeport?

Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, mereka bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, ini kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan zaman penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa modal, kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk pantes-pantesan saja. Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah sudah punya keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang mengatakan bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah menggali perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus dijadikan biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi batangan emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih mampu, mengapa diberikan kepada Freeport.

Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspekpelanggaran yang dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan?

Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia moral dan hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime of commission (Melakukan perbuatan dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa membiarkan kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya berlangsung kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja, malah memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka pemerintah kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah kejahatan berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang perampok melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk melakukan kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir pemerintah kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador, yang meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka pemerintah itu telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak.

Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan martabat bangsa?

Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya menggelindingkan masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan bangsa dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi gerakan politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain lucu, terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa.

Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasusFreeport dan lainnya saat ini?

Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada sebuah bangsa kehilangan kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun dirinya sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa kita kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi nasional, kita pernah mendatangkan ‘dukun’ IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF. Karena menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, kita ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World Trade Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, itu petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini jadi bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita lakukan, impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada kedaulatan lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain seperti Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan kepala terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, India, Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak lucu. Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih seperti inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, tanpa tekanan pihak manapun.

Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu
ini, misalnya modal Anda di 2009 nanti?

Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang menyatakan, “Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-sungguh ini, hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak Ginandjar Kartasasmita?” Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. Tetapi kita diajarkan oleh al-Qur’an, Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah, kalau sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan ada pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi yang sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien Rais. Al-Qur’an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi munkar. Kalau kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi itu. Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya banyak mengambil i’tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus istiqamah, jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red).

Pic0187

102002fataltembagapura1

images


Iklan

Israel Negara Bangkrut

Tantangan yang paling menghancurkan masa depan Israel adalah krisis ekonomi yang sekarang menghempaskan Israel. Kelompok sayap kanan, yang dimotori oleh Partai Likud dan Yisreali Beitneinu, harus berhadapan dengan kenyataan yang pahit bagi masa depan Israel.

Ancaman masa depan Israel, bukan hanya kelompok Hamas di Palestina, tapi kondisi ekonomi Israel,yang sekarat akibat krisis global, dan selama ini ekonomi Israel hanya ditupang oleh bantuan Barat (AS dan Uni Eropa).

Gambaran ekonomi Israel benar-benar sangat terpuruk selama krisis ini dan disebut sebagai yang : ‘Paling buruk sepanjang sejarah Israel’. Gambaran ini tidak berlebihan. Karena, selain Israel tidak memiliki produk yang cukup diandalkan, kecuali pertanian serta penjualan senjata, yang didatangkan dari AS, yang dijual ke berbagai negara yang sedang terlibat dalam konflik. Sementara itu, Israel tidak memiliki sumber daya alam. Ekonomi Israel benar- benar hanya bergantung bantuan dari Barat, dan relawan komunitas Yahudi yang diaspora di berbagai negara di dunia.

Sekarang, Israel menghadapi krisis yang sangat gawat, di mana eksport Israel turun drastis, sebagai imbas dan dampak dari krisis global, bank-bank menghadapi kesulitan likuiditas yang meningkat, pengangguran tumbuh bersamaan tingkat pertumbuhan ekonomi yang minus, dan sekarang, total pengangguran di Israel mencapai 17% dari jumlah penduduk Israel, investasi menurun, tidak ada lagi investor asing yang mau menjamah Israel, ditambah sektor swasta dan sektor publik ikut ambruk. Sekarang, banyak orang-orang miskin, yang mengantri ke kantor dinas sosial Israel, yang membutuhkan makan.

Seorang ekonom Israel, menyebutkan apa yang disebut dengan ‘menyebarnya pesimism’ yang semakin merata dikalangan masyarakat, yang terus menyeruak ke semua lembaga atau institusi ekonomi Israel, dan ekonomi Israel berkait dengan krisis yang sekarang berlangsung secara global. Dan, mereka yang mempunyai kewenangan sebagai ‘The Marker’, menyimpulkan dari semua gambaran soal ekonomi Israel, bahwa berdasarkan berita, komentar dari hasil penggunaan teknologi Israel dan lembaga bisnis, menyebutkan ribuan perusahaan, perusaahan-perusahaan yang volume kecil, dan perusahaan dagang lainnya, semua telah bangkrut, dan menyisakan puluhan ribu pengangguran di Israel.

Beberapa buruh yang kena ‘PHK’ di pabrik-pabrik membuat barikade, dan meminta agar pemerintah melakukan campur tangan. Perusahaan-perusahaan swasta sudah tidak mampu lagi menggaji dan menanggung para buruh mereka, karena barang-barang numpuk digudang-gudang, yang tidak ada lagi, yang mau menerima barang Israel. Apalagi, akibat kebiadaban Israel, yang melakukan pembantaian di Gaza, menimbulkan antipati masyarakat dunia, dan kemudian memboikot seluruh produk Israel.

Dilaporkan pula bank-bank Israel semua berguguran, dan ambruk. Misalnya, Bank Leumi Le Israel, yang merupakan bank terbesar di Israel, pekan ini dilaporkan merugi mencapai 1.2 milyar sekkel (300 juta dolar), sepanjang tahun 2008, dan di tahun 2009, jumlah hampir mencapai dua kali lipat. Karena itu, Bank Leumi, sudah mengajukan pernyataan ‘bangkrut’ kepada pemerintah. Pemimpin Bank Leumi, Eitan Raf, menyatakan , ‘Kami sangat takut’. “Kami menyimpulkan tahun ini merupakan tahun yang sangat dan berbahaya. Dan, semua pemimpin yang menangani ekonomi sangat takut”, ujar Eitan. Maka, jalan satu-satunya pemerintah harus bertanggungjawab dan melakukan intervensi. “Tanpa campur tangan pemerintah, tidak mungkin sektor perbankan mampu memikul krisis ini”, tambah Eitan.

Kini, di Israel setiap hari ribuan orang kehilangan pekerjaan. Sejak tahun 2008 yang lalu, sudah berjibun orang yang menganggur, akibat resesi. Desember tahun lalu, sudah 17.500 orang yang kehilangan pekerjaan, dan meningkat menjadi 24.000 orang pekerja, dibulan berikutnya, jumlahnya lebih meningkat lagi.. Sebuah laporan dari Departemen Tenaga Kerja Israel, menyebutkan di tahun 2008 akhir, orang Israel, yang menganggur jumlahnya sudah mencapai 250.000 orang.

Tentu, yang paling mengkawatirkan pemerintah Israel, banyak yang menganggur itu, mereka yang memiliki kemampuan di bidang teknologi tinggi (high tech-sector), yang meliputi ribuan ilmuwan-insinyur dan teknisi kehilangan pekerjaan. Sebagai gambaran selama bulan Nopember – Desember saja, sudah ratusan orang ahli teknik yang kehilangan pekerjaan. Jumlah pengangguran di negeri Zionis ini mencapai 17%.

Disisi lain, ketika di AS, perusahaan yang bergerak di bidang proverti bangkrut, di Israel juga mengalami nasib yang sama. Sebuah perusahaan proverti terbesar di Israel, yang merupakan kerjasama antara perusahaan proverti Afrika Selatan – Israel mengalami kebangkrutan senilai 2.7 milyar sekkel atau setara dengan 670 juta dolar. Seorang pengusaha berlian, Lev Leviev ikut mengalami kerugian mencapai ratusan juta dolar, akibat uang yang ditanamkan di sektor proverti itu, bangkrut dan uangnya tidak kembali.

Sebuah kerjasama antara perusahaan proverti yang berbasis di Afrika Selatan dengan mitranya di Israel, khususnya yang menginvestasikan uangnya untuk pembangunan realestate di Utara Israel, yaitu di daerah Tepi Barat, tak laku dijual, karena adanya reaksi yang keras dari kalangan rakyat Palestina yang terus menolak terhadap pembangunan pemukiman baru.

Perusahaan berlian Israel yang terbesar, yang membuka outlet di Dubai, mengalami kerugian besar, tak lama setelah para aktivis Palestina menuntut pemerintah Dubai, agar menutup outlet itu, dan pemerintah Dubai mengikuti tekanan yang dilakukan para aktivis yang pro-Palestina itu. Maka, perusahaan berlian itu, kehilangan pembeli yang nilai jutaan dolar. Karena, Dubai merupakan pintu gerbang Timur Tengah, para pembeli dan pemburu perhiasan berlian pasti mereka mengunjungi Dubai. Tapi, serangan Israel ke Gaza itu, para aktivis yang pro Palestina meminta agar pemerintah menutup seluruh bisnis Israel yang ada di negeri itu.

Aksi boikot terhadap produk-produk Israel itu benar telah berdampak, dan mencekik ekonomi Israel. Bahkan, di Inggris kafe-kafe di negeri itu, sudah menandatangani kerjasama, yang tidak akan menggunakan produk-produk makanan dari Israel. Koran Jerusalem Post, melaporkan bagaimana beratnya dampak boikot internasional, mengakibatkan ekonomi Israel benar-benar bangkrut. “Lahirnya gerakan boikot barang Israel yang membahana di seluruh dunia itu, menyebabkan perusahaan-perusahaan lokal Israel gulung tikar”, ungkap Jerusalem Post. Pambantaian Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza, mengakibatkan ikut membantai ekonomi Israel, yang berupa produk-proudk manufactur mereka, dan tidak lagi laku dijual di negeri-negeri di luar Israel, tambah Jerusalem Post.

Negara Inggris dan Skandinavia, yang selama ini menjadi penadah barang-barang bikinan Israel, mereka menolak, dan menurun drastis. Dulunya, 90% produk Israel dilempar ke Eropa dan Skandinavia, tapi sekarang barang-barang Israel itu, tak ada lagi yang sudi menjamahnya. Menteri Perdagangan Israel, yang diwakili Ketua Asosiasi Manufactur, Yair Rotloi, menyebutkan produk-produk manufactur Israel, turun penjualannya mencapai hampir 60%. Sementara itu, mereka yang sudah mengimport produk dari Israel, menurut Yair Rotloi, potensi dikemplang ‘tidak bayar’ mencapai 49%. Jadi inilah yang sekarang oleh Israel.

Namun, betapapun Israel sudah menghadapi sekarat secara ekonomi, tapi para pemimpin ultra kanan Israel, tetap saja mereka masih mempunyai ambisi perang yang menggebu-nggebu, seperti mau menyerang Iran atau memerangi Hamas. Karena, para pemimpin ultra kanan Israel, tak peduli dengan kondisi ekonomi yang mereka alami. Tentu, bagi Zionis-Israel, yang penting bisa membunuh lebih banyak lagi orang-orang Palestina dan Arab.
dari eramsulim.com

Berhasilkah pemilu legislatif 2009

pemiluPesta demokrasi pemilu legislatif baru saja dilewati. Sebagai warga negara yang baik konon harus menggunakan hak suaranya demi menentukan nasib bangsa kita 5 tahun kedepan. Untuk sementara waktu partai demokrat masih bertengger di papan atas dengan mengungguli rival rival terberatnya ,Golkar yang berada pada posisi 2, kemudian disusul PDIP diurutan ketiga,  PKS dan PAN masing masing berada pad aurutan 4 dan 5. Hasil perhitungan cepat atau quick Qount di beberapa lembaga survai tidak jauh berbeda walaupun perhitungan yang sebenarnya masih harus menungguquck-qount keputusan dari  KPU. Tetapi hasil perolehan ini banyak menjadi indikator bahwa partai demokratlah jawarnya pada PILEG saat ini dan tentunya anda boleh berbangga para mania demokrat. Yang menjadi pertanyaan terbesar kenapa demokrat bisa memperoleh suara yang begitu besar bahkan bila dibandingka dengan pemilu 2004 silam hasil ini bertambah menjadi 3 kali lipat, apa masyarkat indonesia mengidolakan sosok presiden seperti SBY, apa memang tawarna politik yang diusung Partai Demokrat sangat menjajikan atau memang karna iklannya yang sungguh meriah  menghiasi diberbagai media elektronik atau media cetak .Keberhasilan di kubu partai demokrat sebagai partai dengan perolahan suara terbesar akan semakin memuluskan SBY sebagai kandidat presiden indonesia 5 tahun kedepan, tinggal sekarang pintar-pintarnya saja mencari koalisi dengan yang lainnya.

Pada perayaan Pesta Demokrasi ini ternayata sepenuhnya tidak berjalan dengan lancar. Angka Golput yang diperkirakan mencapai 30-40 % ini menjadi cambukan besar bagi pemerintah, kasus di papua, banyak warga yang tidak bisa menyalurkan hak pilihnya karena tidak tercatat dalam DPT bahkan sampai kartu suara caleg yang tertukar dengan daerah pemilihan lain. kok bisa kenapa ya ???? ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita mungkin. kenapa pula cara memilih diganti dengan mencontreng. kami mengundang untuk berkomentar……